sekedar ngaco tentang ekonomi
Ada dua macam paradigma ekonomi yang sampai sekarang dikenal, yaitu ekonomi kesetaraan dan fair trade.
Pada fair trade, semua penjual harus mempunyai data yang clear dan tidak disembunyikan. Contohnya seperti pada pabrik meubel, si penjual harus mempunyai data yang sedikitnya bisa menjelaskan asal muasal cost atau biaya final dari produk, seperti biaya eksplorasi, biaya pembuatan sampai biaya angkut barang mentah ke pabrik. Hal ini perlu untuk diketahui agar para konsumen sedikitnya mendapat pencerahan mengenai barang hasil produksi dari segi biaya dan akuntabilitas.
Sedangkan ekonomi kesetaraan, adalah ide yang muncul dari uang kertas. Dimana pada alat tukar yang sekarang terdapat ketidaksetaraan.
Saya simulasikan:
1. Sebuah kertas persegi dibagi dua dengan ukuran sama besar
2. Keduanya diberi nominal, yang satu 100 US Dollar dan yang satunya lagi 100.000 Rupiah. Kemudian, pergilah ke gift soft sebagai contoh. Sebagaimana kita tahu, terdapat ketimpangan ‘nilai’ dari daya tukar masing-masing kertas. Uang 100.000 hanya bisa membeli boneka teddy bear ukuran medium, sedangkan dengan 100 US Dollar, orang bisa membeli handphone baru yang harganya berkali-kali lipat dari sekedar boneka.
Bagaimana tidak, hanya dengan kertas, nominal berbeda, dan proses manufacturing yang tidak terlalu beda secara signifikan, membuatnya pun hanya tinggal cetak saja begitu, bisa terdapat ketimpangan dan perbedaan daya tukar yang begitu signifikan.
Ini adalah akibat dari imperialisme Yahudi dan Amerika, yang dengan money politic bisa dengan mudah membeli freeport, membeli minyak dari Arab Saudi, hanya dengan uang Dollar yang begitu mudahnya untuk dicetak. Telah terjadi penyimpangan. Dulu, uang sebagai alat tukar tidak begitu saja dicetak, tetapi ada jaminan khusus dengan menggunakan emas, dimana percetakan alat tukar harus seimbang dengan jaminannya di bank dunia.
(mungkin bersambung)
